KLATEN HARIANEXPRESS – Hasto PDIP Soroti Kemunduran Demokrasi di Peringatan KAA ke-71. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyoroti kualitas demokrasi Indonesia saat peringatan 71 tahun KAA. Ia tekankan kritik publik sebagai bentuk cinta tanah air dan pentingnya kebebasan berpendapat.
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyoroti kondisi demokrasi Indonesia dalam acara peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). Pernyataannya disampaikan di Sekolah Partai Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Sabtu (18/4/2026).
Hasto menilai ada sinyal kemunduran demokrasi yang terlihat dari semakin banyaknya pelaporan hukum terhadap kritik publik. Menurutnya, hal tersebut bertentangan dengan semangat pembebasan yang lahir dari Konferensi Asia Afrika. Ia menegaskan bahwa demokrasi harus lebih dari sekadar prosedur pemilu semata.
Dalam sambutannya, Hasto Kristiyanto menekankan pentingnya menjaga ruang kritik sebagai bagian dari dinamika bernegara.
“Republik ini dibangun dengan dialektika pemikiran. Ketika kita mengkritik pemerintah, itu bukan berarti kita ingin pemerintah gagal. Sebaliknya, kritik adalah wujud cinta tanah air dan rasa sayang kita agar negara ini mencapai tujuannya dengan benar,” ujar Hasto.

Ia melihat kritik bukan sebagai ancaman, melainkan koreksi yang dibutuhkan agar pemerintahan berjalan lebih baik. Menurut Hasto, semakin seringnya kritik dibalas dengan laporan hukum menunjukkan adanya masalah dalam kualitas demokrasi saat ini.
Kebebasan Berpendapat sebagai Pilar Demokrasi
Hasto Kristiyanto menegaskan kembali bahwa kebebasan berpendapat, berserikat, dan kebebasan pers merupakan fondasi kemerdekaan yang hakiki. Pembatasan terhadap perbedaan pandangan, kata dia, bertentangan dengan cita-cita awal berdirinya bangsa Indonesia.
Ia juga menyoroti pentingnya fungsi checks and balances atau keseimbangan kekuasaan. Legislatif harus bisa menjalankan pengawasan secara independen tanpa intervensi dari pihak mana pun. Dengan begitu, demokrasi bisa tetap sehat, kuat, dan substantif.
Hasto menambahkan bahwa demokrasi tidak boleh hanya berhenti pada pemilihan umum. Demokrasi harus menjadi alat untuk membebaskan rakyat dari berbagai ketimpangan dan ketidakadilan sosial.
Kesadaran Sejarah yang Penting
Dalam kesempatan yang sama, Hasto mengajak semua pihak untuk terus menghidupkan kesadaran sejarah. Menurutnya, sejarah menjadi fondasi berpikir bangsa agar karakter progresif masyarakat tetap terjaga.
Ia menyebut KAA bukan hanya soal hubungan luar negeri, tapi juga tentang bagaimana membangun masyarakat yang berdikari dan bebas dari segala bentuk penindasan.
“Kita tidak boleh membiarkan sejarah kita terputus. KAA bukan hanya soal hubungan luar negeri, tapi soal bagaimana kita membangun masyarakat yang berdikari dan bebas dari tekanan. Di bumi Indonesia, tidak boleh ada penindasan atas cara apa pun,” tegas Hasto.
Peringatan 71 tahun KAA ini, lanjutnya, menjadi momentum penting untuk refleksi nasional. Acara ini diharapkan bisa mendorong perbaikan kualitas demokrasi agar lebih terbuka dan berpihak pada kepentingan rakyat.

Semangat KAA yang Masih Relevan
Konferensi Asia Afrika yang digelar pertama kali pada 1955 di Bandung menjadi tonggak semangat anti-kolonialisme dan pembebasan bangsa-bangsa. Hasto menilai nilai-nilai tersebut masih sangat relevan diterapkan di Indonesia saat ini, terutama dalam memperkuat kebebasan sipil dan keadilan sosial.
Ia mengingatkan bahwa demokrasi Indonesia harus mampu mengusung semangat KAA tersebut. Bukan hanya prosedural, tapi juga substantif, di mana rakyat benar-benar merasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Acara peringatan ini digelar di Sekolah Partai PDIP dan dihadiri oleh kader serta undangan lainnya. Foto-foto kegiatan menunjukkan suasana khidmat dengan latar belakang spanduk peringatan KAA ke-71.
Respons dan Harapan ke Depan
Meski menyoroti berbagai tantangan, Hasto tetap optimistis bahwa dengan kesadaran bersama, demokrasi Indonesia bisa terus diperbaiki. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga semangat gotong royong dan menghindari segala bentuk penindasan.
Pernyataan Hasto ini menjadi bagian dari diskusi yang lebih luas tentang kondisi demokrasi di Indonesia. Berbagai kalangan terus memantau bagaimana ruang publik dan kebebasan berekspresi dijaga di tengah dinamika politik saat ini.
Sebagai informasi, PDI Perjuangan secara konsisten menjadikan isu demokrasi dan keadilan sosial sebagai salah satu fokus perjuangannya. Peringatan KAA ke-71 ini menjadi salah satu wadah untuk menyampaikan pandangan tersebut secara terbuka.
Pembaca diharapkan tetap mengikuti perkembangan isu demokrasi dan peringatan hari-hari bersejarah seperti KAA. Informasi yang akurat dan berimbang sangat penting agar kita semua bisa berpartisipasi dalam membangun bangsa yang lebih baik.








