KLATEN HARIANEXPRESS – Kronologi kecelakaan maut KRL, KA Argo Bromo Anggrek, dan taksi Green SM di perlintasan Bekasi Timur yang mengakibatkan 14 orang tewas dan 84 terluka.
Kabar duka datang dari ranah transportasi publik kita. Sebuah insiden kecelakaan maut kereta yang melibatkan tiga moda transportasi, yaitu taksi listrik Green SM, Kereta Rel Listrik (KRL), dan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek, baru saja terjadi di sekitar Stasiun Bekasi Timur. Insiden ini berlangsung pada hari Senin (27/4/2026) malam, tepatnya sekitar pukul 20.57 WIB. Rangkaian peristiwa tragis ini bermula dari satu kendaraan yang terhenti, namun sayang ujungnya memakan banyak korban jiwa.
Berdasarkan fakta di lapangan, kronologi mengerikan ini berawal saat sebuah unit taksi listrik dari Green SM Indonesia mendadak mogok atau terhenti di tengah Jalur Perlintasan Langsung (JPL) kawasan Bulak Kapal. Posisi mobil yang berada tepat di area rel membuat hantaman dengan KRL yang sedang melaju ke arah Jakarta tidak bisa dihindari lagi. Akibat tabrakan pertama ini, operasional commuter line tujuan Jakarta-Cikarang menjadi sangat terganggu, dan memaksa seluruh rangkaian kereta komuter tersebut berhenti total di tengah jalur.

Tragedi sesungguhnya justru terjadi setelah itu. Saat KRL tersebut masih dalam kondisi berhenti darurat akibat menabrak taksi, ancaman yang jauh lebih fatal datang dari arah belakang. KA Argo Bromo Anggrek yang juga melaju kencang dari arah yang sama tidak sempat melakukan pengereman maksimal karena jarak yang sudah terlalu dekat. Benturan sangat keras antara lokomotif antar-kota dan kereta komuter pun akhirnya sungguh terjadi.
Kerasnya hantaman dari belakang tersebut langsung menyebabkan kerusakan parah pada susunan gerbong KRL. Lokomotif raksasa milik KA Argo Bromo Anggrek bahkan dilaporkan merangsek masuk dan menghancurkan badan gerbong paling belakang dari KRL tersebut. Sangat memilukan karena gerbong belakang tersebut merupakan area khusus wanita. Kerusakan masif pada bagian belakang ini yang kemudian secara langsung memicu jatuhnya banyak korban luka maupun korban jiwa di lokasi kejadian.
Menanggapi peristiwa ini, pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 1 Jakarta segera memberikan konfirmasinya ke publik. Franoto Wibowo, selaku Manager Humas PT KAI, membenarkan bahwa kejadian terhentinya KRL memang berawal karena adanya insiden hantaman dengan armada taksi di perlintasan.
“Oh iya, jadi KRL-nya itu ada taksi yang menabrak KRL. Di JPL lintasan dekat Bulak Kapal. Yang membuat KRL-nya terhenti. KRL berhenti, di belakangnya ada Kereta Argo Bromo,” ujar Franoto kepada wartawan.
Sementara itu, Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, turut membagikan update data terkini terkait jumlah korban tabrakan kereta ini. Berdasarkan rilis data terbaru hingga hari Selasa (28/4/2026) pukul 08.45 WIB, kecelakaan ini tercatat telah menewaskan 14 orang. Tim penyelamat langsung mengevakuasi seluruh korban meninggal dunia dan membawanya menuju RS Polri Kramat Jati supaya tim dokter forensik bisa melakukan proses identifikasi secara lebih mendalam.

Tidak hanya korban jiwa, Bobby juga menyampaikan bahwa ada sekitar 84 orang penumpang yang kini berstatus sebagai korban luka. Tim medis langsung turun tangan menangani seluruh korban cedera tersebut dan segera membawa mereka ke berbagai fasilitas kesehatan yang ada di wilayah Bekasi untuk menerima perawatan medis secara darurat dan intensif.
Perusahaan Green SM Indonesia, yang armada taksi listriknya menjadi awal mula rangkaian musibah ini, juga tidak tinggal diam. Lewat pernyataan resmi di akun media sosial Instagram mereka di @id.greensm, pihak manajemen menegaskan bahwa perusahaan menaruh perhatian penuh pada insiden di dekat Stasiun Bekasi Timur tersebut. Mereka juga berjanji untuk terus bertindak kooperatif dalam mendukung segala bentuk proses investigasi dari pihak kepolisian.
“Kami telah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang, serta mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama kami. Kami berkomitmen untuk menjaga standar keselamatan yang tinggi melalui sistem operasional, pengawasan, serta peningkatan layanan secara berkelanjutan. Kami akan terus memberikan perkembangan terbaru seiring dengan tersedianya informasi yang telah terverifikasi,” demikian kutipan pernyataan resmi Green SM Indonesia.
Pihak berwajib saat ini masih melakukan penyelidikan yang sangat komprehensif untuk mengetahui penyebab pasti mengapa kendaraan tersebut bisa terhenti di atas rel perlintasan kereta. Publik kini menanti hasil temuan resmi aparat penegak hukum atas insiden pilu ini tanpa perlu berspekulasi lebih jauh.

Tetap ikuti perkembangan berita selanjutnya mengenai proses investigasi serta penanganan korban kecelakaan kereta Bekasi ini hanya di portal berita kesayangan Anda. Pastikan untuk selalu mencari informasi dari sumber yang terverifikasi dan faktual.










