HARIAN EXPRESS, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menemukan 1.842 titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan, Jumat (21/08/2026).
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mengintensifkan operasi penanganan darurat karhutla pada sejumlah wilayah Kalimantan. Lembaga ini memantau perkembangan kemunculan api secara berkala sebagai bagian utama dari sistem peringatan dini kebencanaan. Langkah mitigasi ini membantu aparat berwenang mengambil keputusan cepat.
BNPB merujuk pada data aplikasi SiPongi saat mengevaluasi kondisi lapangan. Satelit NASA-NOAA 20 mendeteksi ribuan sumber panas ini pada pukul 14.14 WIB. Kemunculan banyak sumber api ini menuntut respons cepat dari seluruh pemangku kepentingan tingkat pusat maupun daerah.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengonfirmasi temuan satelit ini. Berton merinci tingkat kepercayaan dari ribuan titik yang muncul pada peta satelit.
“Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.832 titik terpantau dengan tingkat kepercayaan sedang (medium confidence) dan 10 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence),” ungkapnya.
Berton menyatakan data pantauan satelit ini memiliki peran krusial bagi satuan tugas gabungan. BNPB menjadikan data ini sebagai rujukan utama saat mengevaluasi perkembangan potensi karhutla. Selain itu, otoritas berwenang juga menggunakan informasi ini untuk menentukan kebutuhan penanganan langsung secara tepat sasaran.
Sistem pencatatan SiPongi secara khusus menyajikan informasi kondisi lapangan terkini bagi publik dan pemerintah. Aplikasi ini juga menyediakan berbagai informasi relevan mengenai persebaran karhutla. Tim penanggulangan sangat mengandalkan sistem ini untuk memandu operasi darat maupun udara.
Provinsi Kalimantan Tengah menempati posisi pertama dengan jumlah sebaran api terbanyak. Satelit mendeteksi 976 titik berpotensi karhutla pada provinsi ini.
Angka ini meliputi 968 titik dengan tingkat kepercayaan sedang serta delapan titik dengan tingkat kepercayaan tinggi. Tingginya angka kemunculan api membuat pemerintah pusat memberikan perhatian khusus bagi wilayah ini.
Provinsi Kalimantan Barat menyusul pada urutan kedua dengan total 489 potensi kebakaran. Rinciannya mencakup 487 area dengan tingkat kepercayaan sedang serta dua area tingkat kepercayaan tinggi.
“Kalimantan Tengah mencatat jumlah titik panas terbanyak yakni 976 titik terdiri atas 968 titik dengan tingkat kepercayaan sedang dan delapan titik dengan tingkat kepercayaan tinggi. Selanjutnya Kalimantan Barat dengan 489 titik terdiri atas 487 titik dengan tingkat kepercayaan sedang dan dua titik dengan tingkat kepercayaan tinggi,” ujarnya.
Tiga provinsi lainnya juga menyumbang angka titik rawan pada periode yang sama. Satelit mencatat 237 titik rawan pada wilayah Kalimantan Timur.
Sementara itu, Kalimantan Selatan memiliki 125 area serupa, lalu Kalimantan Utara memiliki 15 titik peringatan. Seluruh temuan pada tiga provinsi ini masuk dalam kategori tingkat kepercayaan sedang.
“Sementara itu, Kalimantan Timur tercatat 237 titik panas, Kalimantan Selatan 125 titik, dan Kalimantan Utara 15 titik. Seluruh titik panas di tiga provinsi tersebut terpantau dengan tingkat kepercayaan sedang,” tambahnya.
Tim gabungan tidak hanya mengandalkan satu metode saat menanggulangi bencana alam ini. Petugas memadukan operasi pemadaman jalur udara dengan penguatan patroli jalur darat secara bersamaan.
Tim darat langsung bergerak menuju lokasi-lokasi rawan yang muncul pada layar satelit. Sementara itu, armada udara mendukung upaya pencegahan meluasnya api dengan melakukan manuver pengeboman air.
Pemerintah pusat juga terus mendorong pemerintah daerah agar berpartisipasi aktif menanggulangi ancaman lingkungan ini. Sinergi antara pejabat pusat, aparatur daerah, serta masyarakat memiliki peran vital. Kolaborasi ini mempercepat proses pemadaman sehingga kobaran api tidak meluas menuju area permukiman warga maupun fasilitas umum.

Seluruh personel bersiap siaga menghadapi potensi puncak musim kemarau ekstrem. Musim kemarau sering kali memicu peningkatan suhu udara sehingga material organik hutan mengering dengan cepat.
Kondisi alam kering ini memudahkan percikan api berkobar serta merambat lebih luas melintasi vegetasi. Oleh karena itu, BNPB mengimbau masyarakat luas agar tidak membuka lahan menggunakan metode pembakaran tradisional.
Otoritas kebencanaan juga meminta perusahaan perkebunan memperketat pengawasan area konsesi masing-masing. Setiap entitas bisnis wajib menyiagakan regu pemadam internal serta menyediakan peralatan memadai.
Upaya pencegahan sejak dini jauh lebih efektif daripada sekadar melakukan pemadaman ketika bencana telah membesar. Negara berkomitmen melindungi kelestarian lingkungan hidup serta menjaga kesehatan sistem pernapasan masyarakat dari ancaman kabut asap beracun.


